My Princess Part 2

My Princess Part 2

Author              : Chindy Agryesti.

Facebook         : Chindy Agryyesti Horvejkul 

Twitter              : @Chindy404 

Blog                  : http://chindyhvk.blogspot.com/

Cast                 :
  •  Cho Kyuhyun
  •    Yoon Haera


Genre              : AU!, Romance.

Rating             : PG15

Length             : Chapter


Cinta dapat datang dan pergi kapan saja, tetapi cinta sejati pasti datang tepat pada waktunya.


—My Princess—

                                                                     
Beggin :


Dibalik selimut tebal berwarna putih itu, seorang yeoja muda masih dengan lelapnya menjelajahi alam mimpi, ditemani oleh hangatnya lembaran selimut yang menutupi seluruh tubuhnya. Meski matahari sudah tak berada di ufuk timur lagi, namun sepertinya tidak ada tanda-tanda yeoja tersebut akan lekas bangun untuk mengakhiri kegiatan favoritnya itu. Matahari bahkan sudah melaksanakan tugasnya, menerangi isi bumi sejak beberapa jam lalu. Sementara yeoja itu, untuk menyeret jiwanya ke alam sadar pun belum dilakukannya. Mungkin saja yeoja bernama Yoon Haera itu berniat menghabiskan sehari ini untuk kegiatan tidurnya. Jika saja, suara familiar itu tidak menginterupsi aktivitas Haera. Tidak menutup kemungkinan, Haera sungguh menghabiskan waktunya untuk berada di pulau kapuk ditemani guling dan selimut hangatnya seharian penuh. Dari luar kamar, teriakan berasal dari sang Eomma semakin jelas dan pula semakin mengganggu kententraman Haera. Dengan sedikit keterpaksaan, Haera akhirnya membuka juga mata sipitnya. Berselang beberapa detik, pintu kamar itu pun terbuka disertai teriakan Nyonya Yoon yang tak ada hentinya untuk membangunkan putri sulungnya itu. “Mau sampai jam berapa kau akan berkutat pada selimutmu itu?” Celotehan Nyonya Yoon itu nyatanya berhasil membuat mata putrinya terbuka sempurna. “Biarkan aku tidur sepuasnya hari ini Eomma. Kesempatan langka aku bisa memiliki waktu luang seperti ini,” Haera mencoba membela diri, yang langsung disambut oleh pelototan dari sang Eomma. “Kau ini seorang yeoja. Bagaimana bisa seorang yeoja tidur selama ini?! Ini sudah pukul 11, kau berharap Eomma akan memberimu waktu untuk tidur lagi. Andwae! Sekarang bangunlah. Mandi dan bereskan kamarmu. Kau bisa melakukan kegiatan yang lebih berguna dibandingkan hanya  untuk tidur saja,” Haera hampir saja kembali memejamkan matanya, mendengar celotehan sang Eomma yang ia pikir hampir mirip dengan seseorang orang yang tengah berdongeng.

“Kau masih belum juga mau bangun? Aish mimpi apa aku ini memiliki putri semalas dirimu? Haera-ya sadarlah kau ini yeoja. Kau akan menjadi seorang istri suatu saat. Ini sangat memalukan jika ada yang tau bahwa seorang calon putri berkelakuan seperti ini!”

“Ye ye arraseo. Aku akan bangun.” Bergegas Haera menjulangkan tubuhnya diatas lantai. Dan berjalan menuju kamar mandi dengan langkah malas. Sebenarnya masih perlu beberapa menit lagi untuk benar-benar membuat yeoja itu tersadar. Nyawa Haera belum sepenuhnya berkumpul, namun sudah harus ia paksakan melakukan aktivitas. Bisa saja Haera menetap lebih lama lagi ditempat tidurnya untuk beberapa saat selanjutnya asal telinganya siap untuk menerima setiap ocehan yang pasti akan  ia dapatkan dari sang Eomma. Dan juga topik pembicaraan Nyonya Yoon yang mengarah pada pembicaraan calon istri pangeran, menjadi salah satu alasan Haera tidak ingin berlama-lama mendengar pidato dari sang Eomma. Jelas sekali Nyonya Yoon berharap banyak pada penyeleksian itu. Padahal Yoon Haera selaku orang yang menjalaninya saja tidak berharap apa-apa. Sementara Nyonya Yoon terlihat mengharap banyak pada putri-nya itu. Bisa dikatakan, Nyonya Yoon mengharapkan apa yang tidak diharapkan putrinya.

***

“Haera-ya bantu Eomma, ada tamu tolong bukakan pintunya.” Teriak Nyonya Yoon dari dapur pada Haera yang sedang asyik dengan drama televisi yang ia tonton diruang keluarga. Haera mengeluh pada sang Eomma yang sudah mengganggu kegiatan bersantainya sebelum akhirnya beranjak juga yeoja itu dari sofa dan melangkah malas menuju pintu. Dibukanya pintu utama yang langsung menampilkan sesosok namja yang sudah dapat Haera tebak orang itu ialah seorang pengantar surat. Pria berumur kepala empat itu langsung saja menyerahkan sebuah amplop kepada Haera dan segera berlalu.

“Surat apa ini? Mengapa terdapat stample kerajaan?” Gumam Haera saat itu juga tepatnya saat setelah menerima surat ber-stample tersebut. “Nugu?” Dari arah belakang, Nyonya Yoon menghampiri Haera yang masih berdiri tak jauh dari pintu. “Molla. Tadi seorang kurir mengantar ini,” Haera membalas datar disertai uluran tangannya untuk menyodorkan kertas tersebut pada sang Eomma. “Coba Eomma lihat. Tidak biasanya ada yang mengirim surat ke rumah kita,” Selepas surat itu berpindah tangan pada Nyonya Yoon, Haera membalikkan tubuh berniat untuk kembali melanjutkan kegiatan berkencannya dengan televisi. “Ini surat dari Cheongwadai Haera-ya..” Haera tak menggubris. Sedikit pun yeoja itu tak tertarik dengan semua yang berhubungan dengan Cheongwadai. Haera meraih remote televisi dan sibuk mencari siaran televisi yang cocok untuk menjadi tontonan yeoja itu. Karena drama yang sedang ia tonton baru saja berakhir. “Haera-ya..” Panggil Nyonya Yoon. Haera membalas dengan hanya sebuah deheman singkat. “Haera-ya kau lolos chagi. Kau masih berkesempatan,” Jerit Nyonya Yoon girang. Yeoja tengah baya itu bergumam bahagia kemudian menghampiri sang putri.

“Apa maksud Eomma?”

“Kau lolos dari tahap pertama,” Jelas sang Eomma.

“Geojitmal! Maldo andwae! Itu tidak mungkin Eomma,”

“Igeo Igeo.. Kau lihat sendiri. Ini benar-benar namamu. Kau hebat putriku!” Nyonya Yoon tak hentinya berseru bahagia sementara Yoon Haera hanya dapat menghela nafas berat. Apa yang tidak diharapkannya malah terjadi.

Haera terdiam, memikirkan sesuatu. Haera  merasa ada keganjilan atas lolos nya ia melalui tahap pertama. Pasalnya dari seluruh serangkaian percobaan seperti memasak, menjahit, merajut, merangkai bunga, bercocok tanam, dari semua itu tak ada yang dapat Haera kerjakan dengan baik. Jika seandainya diberikan penilaian terhadap setiap pekerjaan Haera, mungkin nilai yang paling tepat ialah nilai E. Jadi bagaimana mungkin bisa Yoon Haera lolos begitu saja sementara masih banyak yeoja yang dapat melakukan pekerjaan lebih baik dibandingkan Haera.

Di waktu yang bersamaan, ditempat yang berbeda. Cho Kyuhyun menghampiri sang Eomma yang berada di ruang keluarga bersama dengan Cho Seung Hwan, Appa Kyuhyun.
“Eomma kau memanggilku? Ada apa?” Tuntut namja itu dan langsung menduduki sofa diseberang Appa dan Eomma-nya. “Apa sudah ada yeoja yang membuatmu tertarik?” Selidik Kim Hana.

“Eobseo.”

“Yang ada hanya wanita tidak sopan yang selalu membuatku kesal,” Tambah Kyuhyun. Yang sebelumnya sudah Kyuhyun ketahui, bahwa yeoja itu menjadi salah satu peserta yang mengikuti seleksi untuk merebut posisi menjadi istrinya. Keberadaan yeoja itu di istana tepat dengan waktu diadakannya seleksi, sudah dapat Kyuhyun simpulkan bahwa yeoja itu menjadi salah satu kandidat calon istrinya. Yeoja pertama yang ditemui Kyuhyun yang dengan beraninya berbicara sambil melemparkan tatapan tajamnya pada seorang Cho Kyuhyun, pada namja pujaan setiap wanita tersebut. Yoon Haera. Ialah wanita yang berani berbuat demikian. Dialah satu-satunya yeoja yang telah menorehkan sejarah dalam kehidupan Cho Kyuhyun. Bila mana ia selalu dilempari tatapan kagum dan penuh cinta dari pada setiap yeoja yang ditemuinya. Berbeda halnya, dengan yeoja yang Kyuhyun temui belakangan ini. Yeoja pemilik nama Yoon Haera tersebut tak segan melempari Kyuhyun dengan tatapan tajamnya. Perlakuan yang amat berlawanan dari perlakuan yang biasa Kyuhyun terima.

“Bagaimana proses penyeleksiannya?” Tuan Cho yang sedari tadi hanya sibuk dengan lembaran dokumen yang ia pegang, akhirnya membuka juga mulutnya untuk bertanya mengenai proses pencarian calon istri bagi putra tunggalnya, Cho Kyuhyun. Tidak dipungkiri bahwa Presiden Korea itu sedikit banyaknya penasaran akan acara penyeleksian calon istri untuk putranya, yang memang sengaja diadakan untuk mempertahankan adat kerajaan yang sudah ada sejak zaman Joseon dulu. “Semuanya lancar. Bahkan aku sudah memiliki satu kandidat yang tepat untuk menjadi calon istri Kyuhyun, hanya tinggal menunggu tahap selanjutnya. Eomma yakin dia akan cocok denganmu Kyu. Gadis itu cantik, pintar, berpendidikan, dan juga berasal dari keluarga yang baik,” Ungkap Nyonya Cho. Siapa pun yang melihat ekspresi yeoja paruh baya tersebut saat itu, sudah dapat menyimpulkan bahwa ia menyukai dengan amat yeoja yang tengah di bangga-banggakan nya itu, Yoon Haera. “Jika pada akhirnya Eomma yang memilihkannya untukku, kenapa harus dilakukan acara seperti itu? Itu terdengar tidak adil,” Cetus Kyuhyun. “Ya itu karena Eomma baru mengetahui ternyata putri dari sahabat Eomma ikut mendaftar untuk menjadi calon istri-mu. Seandainya Eomma ingat lebih awal tentang putri sahabat Eomma itu, sepertinya tidak perlu melakukan penyeleksian seperti ini,”

“Putri dari sahabat-mu?” Sambar Tuan Cho.

“Ne, sahabatku ketika sekolah dulu. Dia memiliki dua orang putri dan anak pertamanya ternyata mengikuti penyeleksian yang kita adakan,”

Terungkap satu alasan yang melatarbelakangi ketertarikan Nyonya Cho terhadap putri sulung dari keluarga Yoon tersebut. Tak lain dan tak bukan, alasan tersebut karena Haera yang merupakan putri Seo Min Hwa yang ternyata adalah sahabat dari Kim Hana ketika mereka sekolah dulu. Dan Kim Hana pun menginginkan hubungannya dengan Seo Min Hwa bisa melebihi dari sekedar sahabat, melalui putra-putri keduanya. Dan itulah menjadi sebuah spekulasi yang diharapkan oleh Ibu dari pangeran Korea tersebut.


***

Haera kembali dipaksa untuk mengenakan gaun –lagi— untuk mengikuti penyeleksian tahap kedua ini. Dan kembali Haera harus bersedia membiarkan tubuhnya dibalut oleh pakaian yang tidak disukainya, gaun. “Kau harus melakukan sebaik-sebaiknya,” Rangkaian kata barusan menjadi kalimat pengantar yang diucapkan oleh Nyonya Yoon pada putri-nya sebelum kepergian Haera menuju Cheongwadai. Dan hingga detik ini, meski sudah berselang setengah jam lalu, kalimat sang Eomma itu masih  terus melekat dikepala Haera.

'Melakukan sebaik-baiknya?' Batin Haera.

'Memangnya apa yang bisa kulakukan? Eomma terlalu berharap banyak. Seharusnya Eomma saja yang mengikuti acara konyol ini,' Gerutu Haera yang hanya dapat ia suarakan dalam hati. Ia hanya tidak ingin menjadi anak durhaka yang suka mengumpat tentang Eomma-nya sendiri.

“Nona, sudah tiba,” Haera menatap sekeliling bangunan mewah berwarna putih didepannya itu. Sebelum akhirnya menghembuskan nafas beratnya dan beranjak keluar dari mobil.
Haera kira kedatangannya di Cheongwadai kemarin akan menjadi kunjungan pertama sekaligus yang terakhir baginya. Haera pikir, ia tidak akan menginjak lagi kakinya ditempat pemerintah negara Korea Selatan itu. Namun semuanya terbalik dengan harapannya. Nyatanya saat ini yang masih memiliki kesempatan untuk berada di Cheongwadai lagi. Mengingat tidak sembarang orang yang dapat memasuki rumah pemerintahan Korea tersebut.



Haera baru saja mengakhiri penyeleksian tahap kedua ini. Ia keluar dari sebuah ruangan dimana didalamnya terdapat ibu negara yang telah menyediakan pertanyaan untuk setiap 
orang yang berhadapan dengannya. Persis seperti orang yang melakukan wawancara bila mana tengah melamar pekerjaan. Tipikal gadis apa adanya, jujur, dan tulus. Berbekal kepribadian tersebut, Haera mampu melalui setiap pertanyaan-pertanyaan yang diajukan padanya dengan mudah dan tanpa ragu. Sebagai mana kepribadian yeoja itu, Haera berhasil memikat Nyonya Cho melalui jawaban-jawabannya yang didasarkan kejujuran yeoja itu.


Haera membiarkan kakinya terus melangkah meski ia sendiri merasa asing dengan lingkungan Cheongwadai. Ia hanya menginginkan suasana sunyi dimana ia bisa menyamankan dirinya karena yeoja itu benci dengan keramaian dan kegaduhan. Hingga tanpa disadari, yeoja itu kini berada disebuah ruangan besar nan mewah. Haera sama sekali tidak tahu dimana ia berada sekarang ini dan bagaimana ia bisa berada disana. Tapi yang Haera tau, sekarang ini ia berada di sebuah ruangan yang sepertinya adalah ruang keluarga. Ruangan itu didominasi oleh warna coklat eboni dengan segala furniture yang tertata pas disetiap sudutnya. Haera dibuat takjub oleh ruangan tersebut. Dan satu hal yang paling membuat takjub Haera. Figura besar yang tertempel pada dinding. Figura yang memuat sosok seseorang yang selalu membuatnya kesal. Cho Kyuhyun. Haera melihat replika orang itu dalam foto keluarga tersebut. Sedetik pun tidak teralihkan tatapan Haera kearah lain. Bola matanya seakan terkunci. Yoon Haera terlalu shock mengetahui satu kenyataan yang tidak dapat dipercayainya.

“Jadi namja itu--”

“Dia putra dari Presiden Cho?” Haera berdialog seorang diri sambil masih menatapi foto keluarga Presiden Korea Selatan tersebut. Pikirannya memang dengan mudah menyimpulkan satu kenyataan itu, tapi hatinya sulit menerima kenyataannya.

“Jadi aku mengikuti seleksi ini untuk menjadi istrinya? Menjadi istri dari namja menyebalkan itu? Maldo andwae!”

Belum selesai Haera dengan kegiatan mendesisnya. Alunan musik yang terdengar begitu indah memenuhi indera pendengaran Haera. Beberapa detik selanjutnya, tidak hanya dentingan piano yang terdengar. Kini disertai juga suara bariton yang mulai memainkan nada-nada indah dalam untaian setiap kalimatnya.

Geudael saranghan manneun heunjokdereun ijen jiwoyagetjyo,
Geudae sajindo hamke nanun chatjando juindo eophsi nama itjyo,
                            
Chuokmaneuron ne miryonmanneuron deoneun eimi opneun modeun gotdeureul.

Haera tak kuasa menahan kakinya untuk tidak mendekat kearah sumber suara. Kedua kakinya bergerak dengan sendirinya tanpa Haera kehendaki. Semakin banyak langkah yang tercipta dari kaki jenjang itu, semakin pula dentingan piano dan alunan lagu itu terdengar dengan jelas.

Sondamyon nan nunmuri heulloso barabeol ttaemyeon mame mongi deuroso,
Ijen gaseum sirin chuogeuro mudodeuryo geudae heunjogeul nan jiujyo,
                        
Sarang do eopjyo naege nameun georagon geudeye chuokpun,
Bancokeul iro amu sseulmodo eophsi nal mugobgeman hal ppunninde,

Naye nunmuldo gin naye hansumdo ijen soyongopneun gol aljyo,


Disisi pintu tempat Haera berdiri, dari situ Haera dapat melihat siapa orang yang tengah memainkan lagu favoritnya. Seorang namja berpakaian kemeja putih dilihat Haera. Jemari namja itu secara teratur menekan tuts piano, merangkai melodi indah nan mempesona. Dengan penghayatan yang begitu mendalam, Kyuhyun menyanyikan lagu berjudul Love Dust itu dengan segenap perasaan yang membuat siapa saja akan terpengarah kagum akan sosok sempurna seorang Cho Kyuhyun.

Sonman deodo nan nunmuri heulloso barabol ttaemyeon maeume meongi deureoso,
Ijen gaseum sirin chuogeuro namgyojil geudae heunjogi neomu mannaso apheujyo,

Kkok monjicheoreom ne mam geotgose geu sarangi nama,

Geudel saranghan geu heunjogeul chiujyo ne bang gadeukhan geudeye hyanggikajido
Hajiman ne ane namaitneun sarangeun jiuryo hedo modu boriryo hedo
Geuge jal andwenabwayo geudega ne mame beoso


Walau dengan mata yang terpejam, Kyuhyun masih terus berfokus memainkan jemarinya di atas tuts piano dan mulutnya yang juga tak pernah diam, terus melantunkan lyric dari lagu bertemakan cinta tersebut. Love Dust. Lagu favorit Yoon Haera. Hingga akhir lagu tersebut, Haera tak membuang pandangannya pada apa pun kecuali hanya menatapi orang itu, menatap takjub akan sosok Cho Kyuhyun dimatanya.

Sial! Rutuk Haera. Untuk pertama kali, Haera merasa resah dan juga bingung sendiri. Dia pernah mengenal lebih dari selusin namja tampan. Dari yang sekedar tampan hingga yang tampan luar biasa. Dari yang keren, agak keren bahkan sampai yang sangat keren. Tapi baru kali ini Haera, merasa resah akan pesona seseorang. Lebih tepatnya, pesona yang dimiliki Cho Kyuhyun. Haera takjub menatap namja itu, batinnya tidak pernah bisa berhenti untuk tidak memuji kesempurnaan seorang Kyuhyun. Ia mendesis kesal karena jantungnya yang tiba-tiba menjadi tak menentu.

“Apa yang kau lakukan disini?” Suara dingin itu berhasil menyadarkan Haera ke alam sadarnya. Yeoja itu nampak menjadi kikuk seketika, akibat teguran yang menghampirinya tiba-tiba yang berasal dari bibir namja itu, Kyuhyun. “Ah itu.. Aku, aku hanya sedang tersesat. Iya, aku sedang tersesat dan tidak sengaja melihatmu,” Baru Haera membalikkan tubuhnya, berniat akan berlalu dari hadapan orang itu. Pandangan Kyuhyun yang terlihat tidak bersahabat, membuat Haera ingin segera pergi dari sana. Pandangan curiga yang dilemparkan Kyuhyun pada Yoon Haera seolah tengah memojokkan seorang pencuri yang sudah tertangkap basah.

“Sepertinya kau menikmati permainan piano-ku,” Langkah Haera kontan berhenti begitu ucapan tadi keluar dari bibir Kyuhyun. Haera berbalik. “Jangan kau pikir aku tidak mengetahui keberadaanmu. Kau sudah berdiri disini sejak awal aku memainkan piano. Dan kau terpesona padaku, geuchi?”

“Mwo?!”


***

Sementara di ruang lain. Masih di dalam lingkungan istana Presiden Korea. Sekumpulan wanita berseragam sama tengah berbincang atau tepatnya bergosip.

“Apa kalian sudah tau? Kudengar Nyonya Cho telah memutuskan yeoja yang akan menjadi calon istri Pangeran Cho,”

“Jinjja?”

“Nugu?”

“Nugu? Siapa yeoja beruntung itu?”

Pertanyaan bertubi-tubi langsung ditujukan pada yeoja pembawa berita barusan. “Jika tidak salah dengar, gadis itu merupakan putri dari sahabat Nyonya Cho. Padahal gadis itu, sudah seharusnya gugur di tahap pertama. Tapi karena Nyonya Cho mengenal sang Eomma gadis itu sehingga terpaksa diluluskan.”

“Benarkah seperti itu?”

“Enak sekali yeoja itu. Hanya karena Nyonya Cho mengenal sang Eomma. Ia bisa dengan mudahnya mengalahkan ratusan yeoja dari Korea,”

“Andai jika yeoja itu saja aku. Aku pasti menjadi yeoja paling beruntung di dunia,”
Komentar demi komentar terlontarkan dari bibir-bibir para pelayan istana Korea. Suatu topik yang nampak begitu menarik diperbincangkan bagi mereka. “Dia sangat beruntung. Seingatku dia adalah gadis yang mendapat penilaian terburuk saat tahap awal. Dia tidak bisa melakukan apa pun dengan baik. Dan terlebih lagi dia gadis yang tidak memiliki sopan santun ya walau harus ku akui ia memang cantik dan keluarganya pun merupakan keluarga terpandang.”

“Walaupun cantik tapi sopan santun adalah hal yang paling utama. Bagaimana bisa yeoja yang akan menjadi ibu negara tapi tidak memiliki sopan santun,” Sahut yang lainnya.

“Ne, sungguh tidak masuk akal. Sahabat memang sahabat. Tapi negara adalah negara. Tidak bisa seenaknya saja memilih sembarang gadis untuk menjadi ibu negara nantinya. Tapi kau tau dari mana dia gadis yang tidak sopan santun?”

“Itu aku pernah melihat dia memaki Pangeran Cho ketika di taman belakang. Dia juga berteriak-teriak tak jelas saat di taman.”

Agak berlebihan jika yeoja pembawa berita itu mengatakan kalau Haera memaki Kyuhyun ketika di taman. Sebab kenyataan yang sebenarnya, ucapan Haera hanyalah sebuah bentuk bela diri terhadap kalimat Kyuhyun yang terkesan merendahkan yeoja itu. Namun kehadiran pelayan itu, menyalah artikan pembelaan diri Haera. Dia menyangka Haera tengah memaki Pangeran mereka.

“Apa yang lakukan disini?” Tak ada satu pun yang menyadari, sudah beberapa detik berlalu sejak keberadaan kepala pelayan, Hye In dibelakang mereka. Hye In memang tidak mendengar pasti apa yang mereka obrolkan tapi, setidaknya melalui gerak-gerik mereka dapat Hye In tebak jika mereka sedang bergosip entah mengenai apa itu. “A-a-ani-yo.. Kami hanya sedang bercerita saja,” Balas salah satu pelayan. “Kembalilah pada pekerjaan kalian. Kalian disini untuk bekerja bukan untuk mengosipkan hal-hal yang tidak perlu dibicarakan oleh kalian,” Sindir Hye In tidak tanggung- tanggung. Para pelayan itu lantas diam seraya menunduk. Sebelum akhirnya mereka pamit dan berlalu dari hadapan Hye In.


***

Bayangan ketika Cho Kyuhyun memejamkan mata, ketika mulutnya bergerak melantunkan seuntai kalimat, ketika jemari namja itu menari-nari diatas tuts piano. Semua itu, entah mengapa selalu hadir dalam benak Haera secara tiba-tiba tanpa yeoja itu inginkan. Semua rekaman mengenai namja bernama Cho Kyuhyun itu dengan sendirinya hadir dan sulit bagi Haera menyingkirkan orang tersebut dari otaknya. Bahkan Haera sudah berfikir ada yang salah dengan otak bagian terdalamnya. Sebelumnya tidak pernah, ia memikirkan seseorang hingga seperti ini.

“Aish pabo! Kenapa aku terus saja memikirkan namja menyebalkan itu!”

“Yoon Haera lupakan. Lupakan tentang orang itu. Hanya membuang waktumu saja! Geurae, lupakan, lupakan!” Papar Haera pada dirinya sendiri. Tangannya dengan cepat meraih bantal kepala dan digunakan Haera untuk menutupi wajahnya.

Seperempat menit Haera berposisi demikian, mengurung wajahnya dibawah bantal. Tapi ternyata posisi Haera itu tetap tidak berpengaruh apa-apa. Bayangan namja itu masih terus saja menghantui di pikiran Haera. “Andwae! Kenapa aku masih saja terus memikirkan dia!” Gusar Haera. “Yoon Haera pabo!” Bantal itu menjadi sasaran empuk bagi Haera melampiaskan kekesalannya. Haera membuang kesal bantal berwarna senada dengan warna bed cover tersebut. Ini sudah pukul 11 malam, sudah lewat dari jadwal tidur Haera yang seharusnya.

“Pergi! Pergi!” Sungut Haera seraya melayangkan kepalan tangannya untuk mengetuk-ngetuk pelan bagian kepalanya.

“Pabo!”

 “Kenapa dia tidak mau pergi? Apa aku mulai menyukainya?!”

“Andwae! Itu tidak mungkin. Tidak mungkin aku menyukai namja menyebalkan sepertinya. Jeongmal andwaeyo!”


***


“Ada apa dengan matamu? Apa kau tidak tidur semalaman? Matamu sudah seperti mata panda,”

'Ini karena pangeran menyebalkan itu!'  Sahut Haera yang hanya dapat ia sampaikan di dalam hati.

“Hanya tidak bisa tidur saja,” Sanggah Haera begitu menduduki salah satu kursi diseberang Nyonya Yoon.

“Eomma bukankah hari ini akan diumumkan mengenai calon istri untuk pangeran Cho?” Sambar Sae Ra yang duduk disebelah Haera.

“Ah maja. Hari ini adalah hari pengumumannya,” Sahut Nyonya Yoon dengan wajah riang.

“Aku tidak yakin kau akan menang Eonni,”

“Tutup mulut bawelmu itu! Aku tidak butuh komentar darimu!” Sergah Haera kesal.

“Aku kan hanya berpendapat. Kau saja yang terlalu sensi. Pantas saja tidak ada namja yang ingin menjadikanmu yeoja chingu,”

“Hya!”

Tepat disaat pertengkaran kedua putri keluarga Yoon baru akan dimulai, secara tiba-tiba suara bel menggema. Yang secara tak sadar, berhasil menyudahi kegiatan adu mulut kakak-adik tersebut. Salah satu dari putri keluarga Yoon itu mendumal tak jelas ketika Nyonya Yoon menjatuhkan perintahnya pada Sae Ra agar membukakan pintu, melihat siapa tamu yang berkunjung ke rumah mereka sepagi ini. Bahkan untuk membukakan pintu saja, Haera dan Sae Ra harus melakukan perdebatan kecil lebih dahulu. Sebelum akhirnya Nyonya Yoon yang mengeluarkan perintahnya. Menitahkan Sae Ra untuk membuka pintu.

“Siapa yang datang?” Tanya Nyonya Yoon setelah bergabungnya Sae Ra kembali di meja makan.

“Hanya seorang kurir yang mengantar surat, igeo.”

“Apa ini?” Nyonya Yoon menerima sodoran kertas putih dari tangan Sae Ra.

“Ini surat dari istana. Jangan katakan kau yang berhasil memenangkannya Haera-ya..” Lanjut Nyonya Yoon mulai sibuk membuka isi surat tersebut.

“Sungguh tidak mungkin,” Sahut Sae Ra.

“Diam kau bocah kecil!” Gertak Haera.

“Siapa yang kau bilang bocah kecil? Aku sudah besar, kau tak lihat sebentar lagi aku akan memasuki universitas.” Sahut Sae Ra tak kalah sinis dari sang kakak.

“Tapi aku tidak peduli!”

Haera dan Sae Ra  terlalu sibuk oleh perdebatan mereka yang sebenarnya bukanlah hal penting. Hingga mereka tidak mempedulikan keberadaan sang Eomma yang duduk diseberang mereka dengan wajah penuh keterkejutan. “Eomma wae? Ada apa?”

“Kau memang putri Eomma. Eomma sangat bangga padamu.”

“Mwoga?”

“Kau akan menjadi putri Haera-ya..”

“Ndeh?!”                           



TBC~~~






                                      

1 komentar:

Miliana on 10 Agustus 2020 pukul 01.07 mengatakan...

dibuat novel sepertinya bagus

selongsong sosis

Posting Komentar

 

Chindy Agryesti Copyright © 2011 Design by Ipietoon Blogger Template | web hosting