Author :
Chindy Agryesti.
Facebook :
Chindy Agryyesti Horvejkul
Twitter :
@Chindy404
Cast :
- Cho Kyuhyun
- Yoon Haera
Genre
: AU!, Romance.
Rating :
PG15
Length :
Chapter
Mian, man,
mian..
Mian banget
kalau part ini lama buanget datengnya..
Aku lagi sibuk
bgt soalnya minggu-minggu ini..
Happy reading..
Aku pergi karena aku mencintaimu.
Tak perlu aku memilikimu, karena bagiku melepasmu adalah cara mencintaimu.
Tak perlu aku memilikimu, karena bagiku melepasmu adalah cara mencintaimu.
–Yoon Haera –
Saat kau telah pergi dari hidupku, baru ku mengerti apa itu cinta.
—Cho Kyuhyun—
Mencintai bukan
tentang bagaimana kamu mengikat, melainkan
tentang bagaimana kamu merelakannya bahagia meski bukan dengan dirimu.
—I Got Your Back—
Part 3 began :
Author POV
Sebuah mobil
mewah yang membawa Presdir Taehan Group telah tiba disebuah halaman luas tempat
kediaman keluarga Cho. Nyonya Hwang segera turun dari mobil lalu mengajak
cucunya masuk. Cho Kyuhyun berdiri tak jauh dari ambang pintu dapat melihat
kehadiran Presdir Taehan Group itu bersama seorang namja kecil. Tampak setelah
Kyuhyun mendapati kedatangan Hwang Seul Rin, bola matanya berkeliling seperti
tengah mencari seseorang. Tersirat raut kecewa diwajahnya mengetahui orang yang
dicarinya tak ada. Kekecewaannya tak mengurungkan niatnya untuk menyapa Presdir
Taehan Group.
“Anneyong haseyo Presdir Hwang,” Sapa Kyuhyun diiringi sebuah senyuman simpul.
“Anneyong haseyo Presdir Hwang,” Sapa Kyuhyun diiringi sebuah senyuman simpul.
“Anneyong
haseyo.” balas yeoja paruh baya itu.
“Eoh? Ahjusshi
baik?” Celetuk satu suara dari agak bawah. Kyuhyun menenguk lutut untuk menumpu
tubuhmya menyetarakan tinggi mereka.
“Eoh? Kau
datang?” Kyuhyun nampak menyukai namja kecil bermarga Yoon itu.
“Kalian tampak
begitu akrab,” Komentar Nyonya Hwang.
Kyuhyun membawa
Presdir Hwang Seul Rin menuju tempat keberadaan Appa-nya. Sejak bekerja sama
dengan Cho Corp, sampai sekarang sang Presdir Taehan Group, Nyonya Hwang belum
pernah bertemu langsung dengan CEO dari perusahaan terbesar di Korea ini.
“Presdir,
perkenalkan ini Appa-ku,” Tutur Kyuhyun memperkenalkan sang Appa pada Nyonya
Hwang.
“Anneyong haseyo Hwang Seul Rin imnida,”
“Anneyong haseyo Hwang Seul Rin imnida,”
“Ye
Anneyonghaseyo Cho Seung Hwan imnida,” Keduanya saling memperkenalkan diri
masing-masing, sejenak mereka terus berinteraksi membicarakan seputar hubungan
kerja sama perusahaan.
Puas Haera menikmati pemandangan malam diluar rumah, berlanjut ia pergi ke kamarnya guna tuk beristirahat. Ia merebahkan diri diatas tempat tidur empuknya. Beberapa saat ia berusaha memejamkan diri menghalau rasa lelahnya. Namun matanya tak bekerja sesuai keinginan. Akhirnya Haera memutuskan untuk berkeliling didalam kamarnya. Haera meneliti setiap sudut dalam kamarnya. Tangannya terulur merapikan tumpukan buku diatas nakas. Disamping tumpukan buku tersebut, terdapat sebuah kalender meja berukuran setengah dari A4. Kemudian Haera meraih kumpulan kertas berisikan tanggal-tanggal itu. Manik hitamnya menatap lekat pada dua angka 1 dan 0 yang membentuk angka 10 dibulan Oktober itu. 10 Oktober. Enam tahun lalu, tepat pada tanggal itu sebuah kenangan telah terjadi dalam hidupnya. Kenangan yang sebenarnya ingin sekali ia ingat dan ia jadikan peristiwa terindah dalam hidupnya. Tapi tak bisa. Semuanya telah berakhir, Haera harus melupakannya. Tanggal 10 Oktober itu pasti akan menjadi tanggal special jika seandainya hidupnya bahagia bersama orang yang dicintainya seperti pasangan lain. Namun semuanya hanya khayalan Haera, ia hanya berandai-andai.
Haera berbalik
pada seseorang yang telah mehanan lengannya saat ia berbalik seseorang yang
sangat Haera hindari telah berada dibelakangnya. Malah orang itu juga yang
tengah memegang lengan Haera.
“Lepaskan,” Sungutnya dengan intonasi
amat sangat dingin.
Hari ini kembali kedua perusahaan itu mengadakan
pertemuan atau yang lebih singkat dikatakan rapat. Acaranya telah berakhir,
ketika Haera tengah berjalan meninggalkan Aula rapat. Satu tangan menahannya.
Kyuhyun –yang menahan Haera— bukan melepaskan malah ia
terus memengangi lengan Haera dan menatapi wajah yeoja itu dalam-dalam.
“Kumohon
lepaskan!” Geram Haera kedua kalinya mengingat permintaan pertamanya tak
digubris oleh namja yang bertubuh lebih tinggi darinya. Haera mendesah kesal. Baru ia mempersiapkan
kata-kata dikepalanya namun saat akan ia suarakan, ucapannya kembali tertelan
ketika tangan orang itu malah menariknya. Ditemani
oleh hembusan angin, mereka saling diam. Mereka Bungkam.
Kyuhyun POV
“Aku tak punya
waktu, aku harus pergi,” Segera kutahan lengannya, sebelum ia melangkah lebih
banyak lagi.
“Lepaskanlah..” tukasnya lagi, tanpa menoleh. “Maaf,”
“Apa yang kau
bicarakan? Sepertinya ada yang salah denganmu
Cho Kyuhyun-shi,” Sekali gerakan ia menghentakkan genggamanku hingga terlepas.
“Maaf. Kumohon
maafkan aku,” Pintaku sambil kembali memegangi lengannya. Kutekuk kedua lutut
ini membiarkan kedua lutut yang memapah tubuhku. Membiarkan celana hitam yang
kugenakan kotor.
“Tolong jangan bersikap seperti ini, kumohon. Maafkan aku. Kau boleh memukulku mencaciku tapi jangan seperti ini. Jangan mengacuhkanku dan jangan membenciku,” Kurasakan pandanganku telah mengabur akibat air mata telah menumpuk dikelopak mata. Kucoba mendongakkan kepalaku menatap manik matanya. Namun apa yang bisa kulakukan jika ia tak pernah mau membalas tatapanku.
“Kau sungguh aneh Cho Kyuhyun-shi. Kau terus meminta maaf, memangnya apa yang pernah kau lakukan?”
“Sekarang
lepaskan! Aku sedang sibuk... Dan juga kau tak perlu berlutut seperti itu,
seorang Presdir sepertimu tak seharusnya berbuat demikian kepada orang yang tak
kau kenal.”
“Lebih baik kau
pukul aku, tapi kumohon jangan bersikap seperti ini terus,” Ia memalingkan
wajah kearah lain sementara aku, aku sudah tak dapat menahan air mata ini untuk
tak jatuh. Dalam hidupku, ini adalah kali keduanya aku menangis untuk yeoja
dihadapanku ini. Yeoja yang aku cintai. Menangis menjadi hal tabu bagi seorang
namja, tanda bahwa aku namja lemah. Biarkan aku menjadi namja lemah, dan
melakukan hal tabu itu. Itu lebih baik dari pada aku harus kehilangan lagi
yeoja yang sangat aku
cintai dihadapanku kini.
“Sepertinya kau sedang mabuk Presdir Cho,” Kembali ia menghempaskan genggamanku dalam sekali sentakan. Tubuhku seolah mati, kaku dan sulit digerakkan terlebih lagi saat ia telah berbalik membelakangiku lalu meninggalkanku seorang diri. Cairan kristal hangat terus meluncur dari kedua sudut mataku. Disela tangisan ku bergumam.
“Saranghae..”
Haera POV
Tubuh ini berbalik memunggunginya, tanpa berpikir lagi, aku segera mengayunkan kaki meninggalkannya. Berjalan membawa diriku pergi dari atap gedung tempat dimana ia masih berada. Aku memilih dengan asal, jalan yang kuinjaki. Aku tak memikirkan tentang itu, aku hanya ingin menangis saat ini.
Cairan bening seolah tengah berlomba-lomba keluar dari kedua mataku tuk membasahi pipiku. Kaki ini rasanya sudah tak kuat untuk menyanggah tubuhku sendiri. Tubuhku lemas, tak ber-energi hingga membuatku harus bersandar pada dinding putih dibelakangku. Aku berusaha untuk tidak menangis lagi, sebab tak seharusnya aku menangisi orang yang bukan siapa-siapaku tapi yang ada, air mata ini semakin menganaksungai dikedua belah mataku. Tuhan kenapa aku begitu lemah? Kenapa aku harus bertemu kembali dengannya? Kenapa hidupku begitu menyedihkan?
Kenapa, kenapa, dan kenapa... Aku harus mengenalnya dalam hidup ini? Aku membencinya tapi aku juga tak pernah bisa melupakannya.. Apakah cinta memang selalu seperti ini? Menyakitkan dan menyedihkan? Atau hanya aku yang menyedihkan?
***
“Eomma, Appa..”
“Maaf aku baru kembali menjenguk kalian setelah sekian lama,”
Aku menumpuk jemari kanan
diatas jemari kiriku dan mulai menggerakkan tubuh, bersujud, membiarkan
kepalaku menyentuh tanah. Selesai pemberian salam, aku duduk didepan dua
gundukkan tanah berlapiskan rumput itu. Dan
sedikit membersihkan rumput liar yang sudah bertumbuhan.
“Eomma.. Appa.. bagaimana kabar kalian? Kalian
bahagia disana?” Terdengar bodoh memang, bicara pada
gundukkan tanah. Biarkanlah
bahkan jika ada yang menganggapku gila, tak apa. Mungkin menjadi gila lebih baik, daripada aku menjadi
yeoja normal yang lemah.
“Eomma, Appa bogoshipeoseo.. Aku merindukan kalian. Aku ingin
bertemu kalian.”
“Kenapa kalian
pergi hanya berdua saja? Mengapa kalian tak mengajakku ikut sekalian bersama
kalian? Aku ingin berkumpul bersama kalian. Aku kesepian didunia ini, aku
sebatang kara Eomma,” Deraian air mata semakin menjadi
seiring terlontarnya setiap kalimat - kalimat dari bibirku. Semula hanya tetesan-tetesan air mata tapi kini, cairan
krystal itu telah menjadi aliran air bak sungai mengalir. Beberapa saat, alunan kata-kataku terhenti digantikan oleh suara tangisan
yang tercipta dari wajah ini.
“Tapi setidaknya, saat ini aku tak
sebatang kara seperti dulu, ada Jong Hyun putra kecilku, ada Presdir Hwang yang
sekarang kupanggil 'Eomma'.”
“Eomma, Appa, banyak yang ingin aku ceritakan pada kalian. Sekarang aku
telah mempunyai seorang putra, dia bernama Jong Hyun, Yoon Jong Hyun. Dia namja
yang manis, lucu, dan juga penurut. Dia putraku, peneman hidupku, penyemangatku..
Aku sangat menyayanginya. Andaikan kalian masih bersamaku, aku
pasti akan sangat bahagia. Hidup bersama kalian, Jong Hyun dan juga Presdir
Hwang,”
Author POV
Hari berlalu begitu cepat. Tak terasa matahari sudah akan
kembali keperadabannya. Hanya tinggal warna kuning keemasan yang tersisa.
Bersamaan dengan itu, Haera meninggalkan gundukan tanah didepannya. Tanpa
disadari, ia sudah berjam-jam berada disana bersama dua
gundukan tanah. Ia menceritakan seluruh keluh kesah dalam hidupnya, entah pada
siapa. Yang ia tahu, ia merasa lega setelah menceritakan semua yang terjadi
dalam hidupnya meski ia hanya bercerita pada tanah yang jelas hanyalah benda
mati, membuatnya tampak seperti orang gila. Sesekali
ia tersenyum kecut, dan tak jarang pula ia mengalirkan air matanya ketika ia bercerita.
Yoon Haera berjalan gontai memasuki pintu utama. Ia terlihat sangat lelah dan juga lesu. Tak ada semangat dalam pandangannya.
Yoon Haera berjalan gontai memasuki pintu utama. Ia terlihat sangat lelah dan juga lesu. Tak ada semangat dalam pandangannya.
“Eomma...” Teriak Jong Hyun dari ruang tamu setelah mendengar
suara decit pintu. Haera menorehkan pandangan dan seutai senyum langsung
tercipta. Ia tak pernah memasang wajah lelah didepan putranya. Senyum dan wajah
bahagia yang selalu ia tunjukkan pada putra. Berbanding terbalik pada hati yang
sesungguhnya sulit untuk bahagia. Bahkan ia sendiri pun belum pernah merasakan
kebahagiaan yang sebenarnya. Jadi mungkin selama ini, itu bisa disebut
kepura-puraan. Pura-pura bahagia walau tanpa sekalipun ia dapat merasakannya.
***
“Haera-ya kau sibuk hari ini? Eomma bosan dirumah saja, kau ingin menemani Eomma?”
“Baiklah,” putus Haera tanpa berpikir lagi. Ia rasa ia juga
butuh penyegaran. Enam hari berturut-turut hanya berkutat pada urusan kantor,
tentu hal yang membosankan. Haera tak mempunyai waktu untuk bersantai-santai
sebagaimana yeoja muda kebanyakan yang bisa menghabiskan berjam-jam di mall.
Diusianya yang terbilang masih muda –23 tahun— ia sudah memiliki tanggung jawab
sebagai seorang Eomma, maupun sebagai pemimpin Taehan Group. Bagi Haera, hari
libur sangat berarti baginya, hari dimana ia bisa bersantai dan menghabiskan
hari untuk menemani Jong Hyun, putra kecilnya.
“Apa yang ingin Anda pesan?” Seorang pelayan berseragam bertanya dengan ramah pada Haera dan Presdir Hwang menanyakan makanan apa yang mereka pesan sambil menyerahkan sebuah daftar menu bercover Coklat tua. Kini mereka duduk pada sebuah meja disalah satu Restaurant Seoul. Haera menyibukkan diri pada daftar menu makanan, begitupun dengan Nyonya setengah baya itu. Pelayan itu beranjak meninggalkan tempat yang Haera duduki seusai mencatatkan pesanan dari pelanggannya.
“Eomma aku ingin Ice Cream,” pinta Jong Hyun.
“Tidak, kau tidak boleh makan Ice Cream terlalu sering,”
“Tapi waktu itu Eomma berjanji akan membelikanku Ice Cream,”
Haera melayangkan pikirannya, mengingat janji yang pernah terucapkan pada Jong Hyun.
Berhasil, pikirannya mengingat akan janji itu. Bukankah saat Jong Hyun bersama
orang itu, Haera memang berjanji.
“Iya. Tapi tidak hari ini, lain kali saja,” Sanggah Haera.
Beberapa saat mereka menunggu, pelayan tadi pun datang membawakan makanan dan minuman yang dipesan. “Selamat menikmati,” Ujar pelayan itu sebelum berlalu. Haera, Nyonya Hwang, dan Jong Hyun mereka pun mulai berkutat pada makanan yang begitu menggugah selera.
“Haera-ya kau tahu Presdir Cho Kyuhyun?”
Suara dentingan sendok terdengar ketika jari-jari lentik Haera yang tengah
memegang sendok diudara seketika terjatuh tatkala Sang Eomma menyinggung nama
Cho Kyuhyun dalam bait ucapannya. Tatapan Haera kian menjadi tatapan teduh
menatapi tangannya yang terasa begitu lemas ketika mendengar nama dari dua kata
itu –Cho Kyuhyun— .
“Wa-e-yo?” Jawabnya sembari menyembunyikan wajahnya. Ia tak
ingin mununjukkan ekspresi sendunya pada Hwang Seul Rin, Eommanya. “Dia tampan
bukan?”
Haera POV
“Haera-ya..” Aku tersadar, alunan merdu yang tercipta dari bibir Eomma yang seakan membangunkanku dari alam bawah sadar yang begitu menyesakan dada tatkala aku membayangkan wajah sempurnanya yang tak pernah ingin kulihat lagi. Aku mendongak menatap sumber suara yang duduk didepan ku dengan senyum.
“Haera-ya..” Aku tersadar, alunan merdu yang tercipta dari bibir Eomma yang seakan membangunkanku dari alam bawah sadar yang begitu menyesakan dada tatkala aku membayangkan wajah sempurnanya yang tak pernah ingin kulihat lagi. Aku mendongak menatap sumber suara yang duduk didepan ku dengan senyum.
“Neh. Maja.” Akuku enggan.
“Kau menyukainya?” Yang ingin kulakukan saat ini, hanyalah
menguatkan diri agar cairan bening ini tak tumpah dalam sejekap.
'Aku bukan hanya menyukainya tapi
aku mencintainya Eomma, Aku masih amat sangat mencintainya.' Ungkapku tapi tak
dapat aku suarakan, pengakuan ini hanya terjadi dalam diriku saja.
“Haera-ya kau melamun lagi? Apa yang kau pikirkan?” Aku
mengangkat wajahku, lalu menggeleng.
“Aniya, tak ada yang aku pikirkan. Eomma aku permisi, aku
ingin ke toilet,”
Dipantulan cermin besar dihadapanku, dapat kulihat cairan bening meleleh dari sudut mataku dan membasahi pipiku memberikan sensasi rasa hangat yang ditimbulkan dari cairan itu. Kuraba permukaan kulit pipiku yang semakin sembab oleh air mata. Air mata ? Kenapa dua kata itu selalu hadir setiap kali aku mengingat tentang dia. Tidak boleh, aku tidak boleh terus memiliki perasaan ini, aku harus melenyapkannya. Dia bukan orang yang pantas kucintai, dia membenciku. Air mataku tak boleh terbuang sia-sia hanya karenanya, dia bukan orang yang pantas untuk selalu kutangisi. Bodoh. Dulu aku pernah memutuskan untuk mencintainya, padahal aku tahu, ia tidak pernah menerimaku didalam hidupnya. Sekarang aku menyesal mencintainya dengan amat sangat, itu semua sakit. Terlalu sakit hingga rasanya aku tidak pernah ingin melihatnya lagi dihidupku. Tapi pada kenyataannya, aku tak pernah bisa membencinya. Rasa ini malah semakin menjadi, ditemani oleh rasa sakit aku masih terus mencintainya. Jika ada yang bertanya apa aku lelah menyimpan perasaan ini sendirian? Tentu saja aku sangat lelah, aku lelah mencintainya, aku lelah merasakan sakit karena perasaan ini. Tapi memangnya apa lagi yang bisa kulakukan?
Aku sadar tak boleh terus terjebak oleh cinta sepihak ini selamanya, tapi tak ada yang dapat kulakukan jika rasa ini selalu menghantui hidupku.
Namun selama nafas masih dapat kuhirup, selama itu juga aku akan berusaha melupakannya. Jika aku bisa mencintainya, maka aku juga pasti bisa melupakannya.
***
Perlahan aku melangkah dengan kaki panjangku keluar dari toilet dan kembali ke tempat Eomma duduk. Laju langkahku tertahan ketika aku menyadari ada seseorang duduk dimeja yang sama dengan Eomma dan Jong Hyun. Kupikir ia mungkin hanyalah teman lama Eomma hingga kaki ini kembali melangkah. Tetapi langkahku kali ini bukan tertahan melainkan terhenti. Kakiku enggan untuk kulangkahkan lagi setelah aku tahu siapa yeoja yang lagi mengobrol ria bersama Eomma. Dengan refleks tubuhku membelakangi meja itu. Tepat saat itu, segerombolan yeoja berseragam SMA masuk ke dalam restaurant. Suasana Restaurant berubah menjadi lebih ramai. Aku tak menyia-nyiakan kesempatan ini, tanpa berpikir lama aku berlangkah besar keluar dari restaurant. Buru-buru aku menaiki taksi lalu membawa diriku pergi dari sana. Tuhan masih baik padaku. Ia tak mempertemukanku dengan yeoja berumur sama dengan Eomma di Restaurant itu. Bukan Tuhan yang tak mempertemukanku, tapi aku yang takut untuk bertemu dengannya. Aku belum siap.
Author POV
Kepergian Haera ke toilet menyisakan Nyonya Hwang bersama
cucu kecilnya. Kala itu, Nyonya Hwang tengah menikmati makanannya hingga ada
satu suara menyapanya dan menginterup kegiatan makannya.
“Eoh? Kau istri Tuan Cho?” Kata Nyonya besar bermarga Hwang
itu meyakinkan. Takut bila tebakannya meleset, sehingga ia pun bertanya untuk
meyakinkan bahwa ia tak lagi salah orang.
“Ye.. Maja.”
“Mari bergabung bersama kami,” Ajak Nyonya Hwang.
“Apakah tak apa?”
“Tentu saja, lagipula disini kami hanya makan siang biasa,”
Alih-alih yeoja paruh baya bernama Cho Hana itu lantas duduk bersebrangan dengan
Hwang Seul Rin. Menyambut ajakan relasi bisnis perusahaannya dengan senang
hati.
“Kalian hanya berdua?” Giliran Nyonya Cho memulai pembicaraan.
“Aniyo, aku bersama putriku dan cucuku.”
“Begitukah? Tapi dimana putrimu?”
“Dia sedang di toilet.
Kau hanya sendiri disini?” Nyonya Hwang balik bertanya setelah menjawab.
“Aniyo, aku diajak putriku makan siang bersama disini. Dia
yang mengajakku tapi dia sendiri yang telat,” Tutur yeoja bernotabene Eomma Cho
Kyuhyun itu agak geram.
“Eoh? Kau mempunyai putri?” Yang Nyonya Hwang tahu, anak
keluarga Cho hanyalah Cho Kyuhyun. Sebab dalam pertemuan sebelumnya dipesta Cho
Corp, tak ada yang membahas mengenai putri keluarga Cho. Jadi wajar Nyonya
Hwang sedikit kaget ketika Nyonya Cho membahas tentang Cho Ahra, putri di keluarga
Cho.
“Ye, dia anakku yang pertama, kakak Kyuhyun,” Ungkapnya
memberikan sedikit penjelasan.
“Ah begitukah?”
Ddrrtt..
Suara getaran ponsel menginterupsi suasana hangat dari pembicaraan kedua yeoja setengah baya itu. Obrolan mereka terpaksa terhenti sejenak tatkala Nyonya Hwang Seul Rin, salah satu dari kedua yeoja itu menerima sebuah pesan singkat yang masuk kedalam ponselnya. Yeoja bermarga Hwang itu pun lantas membuka pesan yang ia terima.
From : Haera-ya.
'Eomma, aku ada sedikit urusan.
Maaf, aku tak sempat pamit padamu. Kutitip Jong Hyun pada Eomma,'
Ia meletakan kembali ponselnya diatas meja, berlanjut memulai kembali obrolan. Sementara namja kecil disana, hanya terdiam mendengarkan obrolan-obrolan yang tak ia mengerti dari kedua yeoja seumuran itu. Dalam diamnya, Jong Hyun yang menyadari sang Eomma belum juga kembali dari toilet sejak tadi, membuatnya merasa aneh dan menanyakannya pada sang Halmeoni.
“Halmeoni, Eomma eoddiseoyo?”
“Tadi Eomma-mu bilang dia ada urusan jadi ia langsung pergi.
Nanti kau pulang bersama Halmeoni saja, ne?” Dengan patuh, Jong Hyun mengangguk
tanda iya.
“Ah.. Aku belum pernah bertemu dengan putri-mu sebelumnya.
Pasti dia sangat cantik, geuchi?” Tutur yeoja paruh baya bermarga Cho itu.
Nyonya Hwang memamerkan senyum bangganya, tentu ia bangga. Tak pernah ada kata
menyesal baginya menjadi Eomma dari yeoja cantik bernama Yoon Haera. Berparas
cantik tentu itu bukan hanya sebagai sampul yang membungkus diri Haera, tapi
juga ia memiliki hati yang tak kalah cantik dari wajahnya. Dan mengingat
tentang kecerdasan, tak ada yang mesti diragukan lagi pada dirinya. Jika dapat
diibaratkan, Haera adalah air yang menjadi bagian terpenting
dalam suatu kehidupan. Begitu pun dalam kehidupan Nyonya Hwang, Haera sangat penting
bagi yeoja paruh baya itu. Bagai penghilang dahaga dalam kehidupan kelam
seorang Nyonya Hwang.
***
Cho Kyuhyun menempatkan tubuhnya pada tempat tidur king size di kamarnya. Ia mendesah gusar dengan helaan nafas kasarnya. Membiarkan nafasnya tercipta secara tidak beraturan. Nampak tidak hanya helaan nafas yang terdengar tetapi juga, desahan frustasi sesekali ia keluarkan.
Iris hitam itu menatap lekat pada langit-langit putih diatasnya. Pikirannya melayang pada seseorang. Seseorang yang sekarang sulit ia jangkau baginya. Bagai roll film, pikirannya seolah berputar mengingat sesuatu yang Nyonya Cho bicarakan padanya sesaat ia baru menginjakkan kaki dirumahnya sepulang kantor.
“Apa kau ingin seperti ini terus? Tidakkah ada keinginanmu untuk memulai hidup yang baru bersama seorang yeoja yang nanti akan menjadi istrimu? Meski sejujurnya, Eomma hanya ingin dia yang menjadi menantu Eomma. Eomma sudah terlanjur menyayangi dia, dan menurut Eomma hanya dia yang pantas menjadi istrimu,”
“Tapi mau bagaimana lagi? Perasaan seseorang tidak
bisa dipaksakan. Eomma hanya bisa berharap yang terbaik bagimu. Walau jauh
dilubuk hati ini, Eomma masih amat berharap ia akan kembali dalam keluarga
kita. Eomma merindukannya. Ia sebatang kara didunia ini, Eomma ingin menjaganya
disisa hidup Eomma. Ia sendirian dan tak mempunyai siapa-siapa lagi. Eomma mengkhawatirkannya
selama ini. Banyak segelintir pertanyaan untuknya. Bagaimana kabarnya? Apa ia
hidup dengan baik selama ini? Dimana sekarang ia berada? Bahkan dari itu semua,
tak ada sedikitpun yang Eomma ketahui tentangnya.”
Kyuhyun POV
“Apa kau ingin seperti ini terus? Tidakkah ada keinginanmu
untuk memulai hidup yang baru bersama seorang yeoja yang nanti akan menjadi
istrimu? Meski sejujurnya, Eomma hanya ingin dia yang menjadi menantu Eomma.
Eomma sudah terlanjur menyayangi dia, dan menurut Eomma hanya dia yang pantas
menjadi istrimu,”
“Tapi mau bagaimana lagi? Perasaan seseorang tidak
bisa dipaksakan. Eomma hanya bisa berharap yang terbaik bagimu. Walau jauh
dilubuk hati ini, Eomma masih amat berharap ia akan kembali dalam keluarga
kita. Eomma merindukannya. Ia sebatang kara didunia ini, Eomma ingin menjaganya
disisa hidup Eomma. Ia sendirian dan tak mempunyai siapa-siapa lagi. Eomma mengkhawatirkannya
selama ini. Banyak segelintir pertanyaan untuknya. Bagaimana kabarnya? Apa ia
hidup dengan baik selama ini? Dimana sekarang ia berada? Bahkan dari itu semua,
tak ada sedikitpun yang Eomma ketahui tentangnya.”
Serentet
bait kalimat yang keluar dari Eomma sungguh kembali membuka rasa bersalahku.
Bahkan kata maaf tidak cukup atas perlakuanku enam tahun silam padanya. Aku
bersalah. Kesalahan yang tidak dapat lagi ditolerir, aku terlalu dalam
menyakitinya, menyia-nyiakannya. Mengabaikan perasaan tulusnya, dan tidak
sedikit pula kata-kata menusuk yang terlontar dari bibir bodoh ini kepadanya.
Jika aku mempunyai pilihan, aku lebih memilih ia mencaciku, memukulku. Bagiku
mungkin itu lebih baik, dari pada ia harus mengacuhkanku, dan tak mau
menatapku. Itu sakit. Sungguh sakit. Semuanya itu kini seperti karma bagiku. Jika
dulu, aku yang mengacuhkanku lalu saat ini semua itu seperti tulah yang kembali
pada tuannya. Diacuhkan, dibenci, tak dianggap sekarang ini aku dapat merasakan
itu semua. Giliranku yang merasakan itu semua, ternyata sakit. Sangat sakit
rasanya. Hatiku seolah tertusuk-tusuk ribuan jarum kala ia berhadapan denganku
namun ia tak mau menatapku. Hatiku kian sakit menerima fakta bahwa pada
kenyataannya ia bertingkah seolah tak pernah mengenalku. Sesakit inikah rasanya
atas semua luka yang pernah kutorehkan kepadanya?
***
3 detik lalu baru aku menyandarkan punggungku yang terasa pegal pada sandaran kursi sembari memejamkan mata hingga suara ketukan pintu terdengar digendang telingaku. Setidaknya sudah 3 jam aku berkutat pada lembaran-lembaran kertas map diatas mejaku. Wajar bukan jika aku ingin beristirahat sejenak tetapi orang dibalik pintu itu malah mengganggu. Aku berdecak kesal. Ingin rasanya aku memaki orang dibalik pintu itu.
“Masuklah..”
titahku jauh dari kata lembut.
Sesosok namja sebaya denganku berdiri memasang wajah tak berdosanya. Aku menggeram kesal. Ingin aku melayangkan sepatuku pada orang itu.
Sesosok namja sebaya denganku berdiri memasang wajah tak berdosanya. Aku menggeram kesal. Ingin aku melayangkan sepatuku pada orang itu.
“Untuk apa kau kesini?”
“Rapat
dengan Taehan Group akan dimulai setelah jam makan siang,” beritahunya. “Baiklah.
Cepat keluar sana, aku ingin istirahat sebentar,”
“Ye.
Selamat istirahat Presdir,” Tuturnya masih dengan menampilkan senyum tak
berdosanya. Park Tae Hyun, kau sungguh menyebalkan.
Rapat telah dimulai sejak satu setengah jam lalu bahkan saat ini sudah akan memasuki penutupan. Salah seorang dari bagian perusahaan Taehan Group menjadi pemateri menyampaikan kata-kata penutup sebelum mengakhiri rapat yang membahas proyek kali ini. Dengan adanya rapat ini, memberikan peluang dan kesempatan untukku bisa menatap wajah itu. Meski harus kudapati wajah datar nan dingin itu tak pernah mau menoleh sedikitpun kearahku. Sebegitukah ia membenciku? Jika aku boleh memutar waktu, aku tak akan pernah melakukan kebodohan itu. Namun itu semua itu hanyalah “Jika aku..”
Segera ia bangkit dari posisinya dan melangkah cepat membawa dirinya keluar dari ruangan beratap sama denganku. Bahkan berada diatap yang sama denganku, ia tampak tak menyukainya. Lalu bagaimana bisa aku masih berharap ia masih seperti dulu?
Setelah
kepergiannya, aku melangkah dengan langkah besar menyusulnya. Hingga jarakku
telah berada dibelakang tubuhnya, aku meraih pergelangan tangan itu.
Kuperhatikan tubuhnya menjadi tegang seketika. Matanya membulat sempurna bagai
sebuah bola tatkala mendapati diriku dibelakangnya sembari memegang pergelangan
tangannya.
“Maaf, bisa Anda lepaskan?” Pintanya dengan
intonasi dingin, sangat dingin lalu membuang tatapannya pada lantai putih.
Tangannya bergerak menghentakan genggamanku. Terlepas. Akhirnya, usahanya
berhasil, tanganku terlepas. Satu langkah tercipta dari kaki kirinya, namun
langkahnya tertahan karena ucapanku.
“Satu
pertanyaan, apa kau membenciku?” Ia bersuara menjawab pertanyaanku.
“Ya,
aku membencimu!”
To Be Continue...
Mungkin di part selanjutnya akan lebih lama lagi,
miaaannn....
2 komentar:
Huaaaa makin seru dan makin penasaran
ahhh demi apa ini makin bikin penasaran bgt...
Posting Komentar